Literasi keuangan—kemampuan untuk memahami dan menggunakan berbagai keterampilan keuangan secara efektif—kini menjadi sangat penting bagi masyarakat Asia, terutama di tengah meningkatnya kompleksitas produk keuangan, pertumbuhan fintech yang pesat, dan krisis biaya hidup yang berkelanjutan. Rendahnya literasi keuangan di banyak wilayah Asia dapat memperburuk ketidaksetaraan ekonomi dan membuat masyarakat rentan terhadap penipuan.
Pertumbuhan pesat platform investasi online dan pinjaman digital (pinjol) telah membuka peluang baru, tetapi juga meningkatkan risiko. Tanpa pemahaman dasar tentang risiko, bunga, dan utang, banyak konsumen menjadi korban skema investasi yang meragukan atau terjerat dalam lingkaran utang yang tidak sehat. Generasi muda yang melek teknologi, ironisnya, juga rentan terhadap risiko ini.
Pemerintah dan lembaga keuangan kini berinvestasi dalam program edukasi literasi keuangan berskala nasional, menargetkan sekolah, komunitas pedesaan, dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Program ini bertujuan untuk mengajarkan keterampilan dasar seperti perencanaan anggaran, tabungan, dan memilih produk asuransi yang tepat.
Meningkatkan literasi keuangan bukan hanya tugas individu, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, dan pendidik. Keberhasilan dalam upaya ini akan berkontribusi pada stabilitas keuangan rumah tangga, mengurangi kemiskinan, dan memperkuat sistem keuangan regional secara keseluruhan.
Literasi keuangan menjadi krusial bagi masyarakat Asia di era fintech dan biaya hidup yang kompleks, karena rendahnya literasi membuat masyarakat rentan terhadap penipuan dan utang, sehingga mendorong pemerintah dan lembaga keuangan untuk meningkatkan edukasi berskala nasional.

