Fenomena Mukbang, atau siaran makan-makan yang masif dari Korea Selatan, telah meledak popularitasnya di seluruh Asia dan bahkan mendunia. Konsepnya sederhana: seorang host makan dalam jumlah besar makanan di depan kamera, seringkali sambil berinteraksi dengan penonton. Apa yang membuat tren ini begitu menarik dan candu bagi jutaan orang? Salah satu faktor utamanya adalah aspek visual dan audio. Suara renyahnya keripik, slurping mi, dan gigitan besar makanan lainnya menciptakan pengalaman sensorik yang memuaskan, dikenal sebagai ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response), yang banyak orang anggap menenangkan atau bahkan memicu sensasi geli yang menyenangkan.
Selain itu, Mukbang memenuhi kebutuhan psikologis yang unik. Bagi mereka yang makan sendirian atau memiliki pembatasan diet, menonton host Mukbang makan dengan lahap dapat memberikan sensasi ‘makan bersama’ atau bahkan vicarious satisfaction. Ini menciptakan rasa koneksi dan kebersamaan, seolah-olah penonton sedang berbagi makanan dengan host. Interaksi langsung melalui komentar dan obrolan juga memperkuat ikatan ini, menjadikan Mukbang lebih dari sekadar menonton orang makan, tetapi juga pengalaman sosial.
Faktor budaya makanan yang kuat di Asia juga berkontribusi pada popularitas Mukbang. Makanan adalah bagian integral dari kebersamaan dan identitas budaya. Mukbang sering menampilkan hidangan-hidangan yang lezat dan berlimpah, memicu selera dan keinginan penonton untuk mencicipi makanan tersebut. Ini juga menjadi platform bagi host untuk mencoba berbagai jenis makanan, termasuk kuliner asing, yang memperkaya pengalaman kuliner penonton.
Meskipun ada kekhawatiran tentang dampak kesehatan dan mempromosikan makan berlebihan, Mukbang terus berkembang dan berevolusi. Dengan daya tarik visual yang kuat, aspek ASMR, dan dimensi sosial yang unik, fenomena makan-makan Korea ini tampaknya akan terus memikat hati audiens di seluruh Asia, menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya hiburan digital.

